Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Suku Ambon

Asal-usul penamaan
Istilah suku Ambon diambil dari nama Pulau Ambon. Menurut penduduk setempat, kata Ambon atau Ambong berasal dari kata ombong yang merupakan embun dalam bahasa Ambon. Penamaan tersebut diperkirakan digunakan karena puncak-puncak gunung di Pulau Ambon sendiri sering kali ditutupi oleh embun.

Bambu gila

Pada mulanya, istilah orang Ambon atau Ambonezen dalam bahasa Belanda digunakan untuk merujuk pada orang mestizo yang berasal dari Pulau Ambon. Namun pada perkembangan selanjutnya, istilah tersebut digunakan untuk mengacu pada orang yang berasal dari Seram, Kepulauan Lease, dan pulau-pulau di sekitarnya. Meskipun pada akhirnya istilah orang Ambon merujuk pada suku Ambon, masih sering ditemukan pars pro toto dengan maksud keseluruhan orang Maluku.

Sejarah
Suku Ambon membagi sejarahnya menjadi enam zaman penting, dimulai dari zaman Nenek Moyang, dilanjutkan oleh Portugis, Vlaming, Pattimura, Kompeni, hingga zaman Republik. Garis besar sejarah suku Ambon dimulai dari Nunusaku di Seram Barat. Karenanya pun, budaya tradisional Seram menjadi landasan budaya Ambon

Budaya

1. Mata pencaharian
Salah satu dari dua mata pencaharian adati suku Ambon adalah tukang kebun. Suku Ambon menanam berbagai macam sayuran, rempah, dan buah-buahan di ladangnya, di antaranya kasbi (ketela) yang dahulu dibawa oleh Portugis untuk memperbaiki gizi masyarakat setempat. Sagu yang merupakan makanan pokok pun dibudidayakan oleh para tukang kebun, meski dulunya diambil langsung dari alam.
Pekerjaan lainnya, yakni nelayan selalu dimulai dengan berdoa sebelum melaut. Dalam aktivitas masyarakat nelayan melakukan ritual upacara adat, yaitu turun perahu baru dan turun jaring baru, keduanya dipimpin oleh tokoh agama. Upacara yang pertama disebut dilakukan di atas perahu, sedangkan yang satunya di rumah pemilik jaring. Keduanya memiliki tujuan keselamatan sang nelayan. Selain jaring, dikenal pula alat, seperti sero atau bubu (anyaman bambu yang diletakkan di laut dangkal). Nelayan menangkap ikannya di labuang, daerah penangkapan ikan yang sudah dibagi tiap negeri. Istri para nelayan juga bekerja sebagai jibu-jibu atau penjual ikan pada siang hari.

2. Kekerabatan
Suku Ambon menentukan kekerabatannya berdasarkan garis keturunan ayah dan menetap di lingkungan pihak ayah setelah menikah. Satuan kekerabatan paling kecil adalah tate moyang yang berisikan orang-orang yang memiliki satu moyang, lalu famili (kerabat) yang berisikan keluarga inti dengan sanak saudaranya, baik dari pihak ayah maupun ibu. Satuan famili saling memiliki tanggung jawab untuk membantu saat ada masalah dan upacara mengenai hal-hal penting dalam kehidupan: kelahiran, perkawinan, dan kematian.

Selain itu, dikenal pula matarumah yang berisikan keluarga inti dan keluarga luas terbatas dari garis keturunan laki-laki. Tiap matarumah memiliki dati (tanah keluarga) yang digarap dan dipanen oleh para anak dati, yakni laki-laki di matarumah tersebut dan perempuan yang belum kawin. Ketika kawin, perempuan kehilangan haknya karena dianggap telah mendapatkan hak atas tanah dati suaminya. Kehilangan hak atas tanah dati pun dapat terjadi ketika seseorang pindah ke tempat selain negerinya, tetapi hak dapat diperoleh ketika orang tersebut memutuskan untuk menetap kembali di negeri tersebut. Terdapat pula soa (klan) yang merupakan keluarga besar yang dikepalai oleh seorang orang tua (tetua). Tiap soa ditandai dengan satu atau beberapa fam (marga) sehingga kedua istilah soa dan fam sering kali digunakan bergantian.

3. Bahasa
Bahasa utama yang dituturkan oleh suku Ambon adalah bahasa Ambon atau Melayu Ambon, salah satu bahasa rumpun Austronesia yang sejatinya merupakan dialek Melayu hasil perkembangan bahasa tanah (asli) yang dipengaruhi kuat oleh bahasa Melayu. Menurut pengelompokan bahasa Maluku, bahasa Ambon termasuk dalam kelompok bahasa Siwalima. Penggunaan bahasa Ambon yang merupakan dialek bahasa Melayu oleh suku Ambon dilatarbelakangi oleh perdagangan dan penjajahan. Kini, bahasa Ambon tak hanya digunakan oleh suku Ambon, tetapi juga digunakan sebagai bahasa pengantar atau Bahasa pergaulan seluruh Maluku di samping bahasa Indonesia.


4. Agama
Suku Ambon memeluk agama Kristen dan Islam dan berimbang jumlahnya. Islam dibawa oleh para pedagang Arab dan Jawa, sementara Kristen datang dalam dua gelombang. Gelombang pertama Kristen adalah dalam bentuk Katolik Roma yang dibawa oleh bangsa Portugis, dilanjutkan oleh Protestan yang dibawa oleh Belanda sejak zaman VOC.





Joko Sunaryanto
Joko Sunaryanto Jangan lupakan jati dirimu. "Sangkan paraning dumadi"

Posting Komentar untuk "Suku Ambon"